Sejarah Hidup Abdul Haris Nasution

Sejarah Hidup Abdul Haris Nasution


Kini Anda tak perlu khawatir, kecewa tidak akan jadi teman apabila Anda mempercayai kami panara.id untuk memberikan informasi menarik yang akan mengisi waktu Anda beberapa hari ini. Bisa jadi kami bukanlah yang nomor satu, tapi yakinlah bahwa kami yang terbaik. Namun lagi-lagi semua tergantung pilihan Anda. Semua di tangan Anda, apakah akan melanjutkan atau menutup page ini? Tapi kami sarankan untuk melanjutkan swipe demi mendapatkan informasi menarik dari salah satu Panglima TNI Pertama di Indonesia.

 

Abdul Haris Nasution atau lebih dikenal A.H. Nasution dilahirkan pada tanggal 3 Desember 1918 di desa Hutapungkut, Distrik Mandailing, Kotanopan, Tapanuli Selatan suatu daerah perbatasan antara Sumatera Utara dan Sumatera Selatan tempat yang jauh dari keramaian dan kesibukan industri saat itu. Pada saat kelahiran Nasution ayahnya tidak dapat menyaksikan dikarenakan ayahnya sedang berdagang di kota Sibolga, kota pelabuhan kurang lebih 180 km dari Hutapungkut.

 

Pada saat itu kendaraan bermotor jarang ada, orang pergi berdagang menaiki padati atau kereta kuda sehingga memakan waktu yang lama. Sesaat setelah Nasution lahir, Kakeknya membisikan adzan di kuping Nasution bayi, sebagai rasa syukur kepada Allah SWT. Masa kecilnya Nasution akrab dipanggil “si Ris” dan dikenal sebagai penggemar panjat pohon yang tinggi. Sejak kecil Ris atau Nasution rajin membaca buku-buku cerita yang berkaitan dengan sejarah-sejarah perang dan tertarik pada cerita kepahlawanan Nabi Muhammad SAW yang dikenal sebagai ahli dalam strategi perang.

 

Keluarga Nasution berasal dari keluarga petani biasa, jika panen kurang menguntungkan ayahnya juga berdagang tidak hanya di desanya tetapi berdagang sampai keluar desa. Nasution yang dibesarkan dari keluarga taat beragama tumbuh menjadi manusia yang membuat dirinya banyak bertenggang rasa, nalurinya untuk bertindak adil, wajar, dan jujur serta menahan diri dari perbuatan licik dan kotor. Pribadi Nasution yang serba sederhana, saleh dan tak kalah pentingnya yaitu intelektual yang membuat citra tentang dirinya sebagai tokoh besar yang disegani banyak orang. Tidaklah berlebihan untuk dikatakan bahwa Nasution adalah tokoh yang tangguh, ulet, tekun, konsisten, berkarakter dan berkepribadian yang juga memiliki kualitas kecendikiawan yang tinggi.

 

Memulai masuk pendidikan militer pada tahun 1990 belanda membuka sekolah perwira cadangan bagi pemuda Indonesia yang dikenal sebagai Corps Opleiding Reserve Officieren (CORO) dengan syarat utama adalah mempunyai ijazah HBS atau AMS, karena Nasution pernah menempuh pendidikan AMS maka ia pun mengikuti seleksi pendidikan CORO di Palembang.

 

Setelah lolos seleksi beliau berlayar ke Bandung untuk menjalani hidup dan menikah pada tahun 1947 saat ia menjabat sebagai panglima divisi siliwangi dengan putri dari bapak Gondokoesoemo di Ciwidey, pernikahan mereka dikaruniai dua buah seorang putri yang bernama Hendrianti Shara Nasution dan Ade Irma Nasution. Malangnya anak kedua Nasution, Ade Irma Nasution harus gugur mendahului ayahnya akibat peristiwa kebiadaban G 30 S/PKI. Ade meninggal dunia pada usia 5,5 tahun.

 

Informasi yang Anda dapatkan terkait Abdul Haris Nasution semoga dapat menambah wawasan Anda dan dapat menginspirasi Anda semua untuk mengikuti jejaknya. Jangan lupa hubungi Panara Course untuk kebutuhan Bimbel TNI Anda. Sampai jumpa lain waktu!

Recent Posts
WA WhatsApp
CALL Call