Halo, Sobat Panara! Kalau kamu pernah melihat prajurit TNI Angkatan Darat melintas dan bertanya-tanya, "Itu pakai seragam apa ya? Kok beda-beda?", kamu nggak sendirian. Banyak orang yang belum tahu kalau TNI AD punya beberapa jenis seragam resmi dengan fungsi yang berbeda-beda. Setiap seragam bukan sekadar pakaian biasa, tapi punya makna, aturan pemakaian, dan atribut yang sudah diatur ketat oleh regulasi militer.
Nah, di artikel ini kita bahas semua jenis seragam TNI AD yang perlu kamu tahu, mulai dari yang sering kelihatan sehari-hari sampai yang cuma muncul di upacara besar. Yuk, simak sampai selesai!
Seragam TNI AD
Sebelum masuk ke detailnya, penting dipahami dulu kenapa seragam TNI AD itu punya banyak jenis. TNI Angkatan Darat adalah tulang punggung pertahanan darat negara kita, dan setiap kegiatan, entah itu latihan di lapangan, upacara kenegaraan, atau tugas harian di kantor, punya standar penampilan tersendiri.
Seragam TNI AD didesain dengan mempertimbangkan tiga hal utama: fungsi, identitas, dan kebanggaan korps. Warna hijau yang mendominasi hampir semua seragam TNI AD bukan kebetulan, warna itu mencerminkan kedekatan dengan alam dan hutan Indonesia, sesuai dengan karakter pasukan darat yang beroperasi di berbagai medan.
Secara garis besar, jenis seragam TNI AD dibagi menjadi tiga kelompok besar: Pakaian Dinas Harian (PDH), Pakaian Dinas Lapangan (PDL), dan Pakaian Dinas Upacara (PDU). Mari kita bahas satu per satu.
1. Pakaian Dinas Harian (PDH) TNI AD
PDH adalah seragam yang dipakai untuk kegiatan sehari-hari. Tapi jangan salah, harian di sini bukan berarti bebas seperti baju kasual. Tetap ada aturan dan atribut yang wajib dipenuhi.
Berdasarkan Surat Telegram KSAD Nomor ST/722/2022, PDH dikenakan setiap hari Rabu dan Kamis, dan ketentuan ini berlaku efektif sejak 1 April 2022. PDH sendiri terbagi menjadi tiga jenis.
PDH I - Seragam Harian Lengan Pendek
PDH I adalah baju dinas berlengan pendek berwarna hijau. Seragam ini dipakai untuk kegiatan di dalam ruangan seperti rapat, ceramah, pertemuan kedinasan, kegiatan di asrama, atau perjalanan dinas dalam negeri. Simpel tapi tetap rapi dan formal.
Atribut yang digunakan di PDH I antara lain papan nama, tanda pangkat harian, badge satuan, serta tanda kualifikasi atau kemahiran yang relevan.
PDH II - Seragam Harian Lengan Panjang
PDH II punya model yang mirip dengan PDH I, tapi berlengan panjang. Biasanya dipakai untuk kegiatan yang sedikit lebih formal atau saat kondisi lapangan tidak memungkinkan pakai lengan pendek.
Kelengkapan PDH II sedikit lebih detail, termasuk topi lapangan dengan tanda pangkat bordir, ikat pinggang hitam berlambang TNI, dan sepatu harian. Untuk anggota perempuan (Wanita TNI), ditambah tas PDH warna khusus.
PDH III - Seragam untuk Tugas Internasional (PBB)
Nah, ini yang agak unik. PDH III dipakai khusus untuk tugas internasional di bawah bendera PBB, baik di dalam ruangan markas maupun dalam perjalanan dinas internasional dalam rangka misi PBB.
Ciri khasnya adalah penggunaan baret warna biru dengan emblem PBB. Atribut yang dipasang pun berbeda dari PDH biasa, ada badge PBB di lengan kanan dan badge merah putih bertuliskan Indonesia di lengan kiri.
2. Pakaian Dinas Lapangan (PDL) TNI AD
Kalau PDH untuk kegiatan harian di kantor atau ruangan, PDL adalah seragam untuk aktivitas di lapangan. Mulai dari latihan militer, operasi, apel tertentu, sampai kegiatan yang membutuhkan mobilitas tinggi, semuanya pakai PDL.
Seragam ini dibuat dari bahan yang lebih kuat dan tahan lama, dengan desain yang lebih fungsional. Dan tentu saja, ciri paling ikoniknya adalah motif loreng.
PDL Loreng Malvinas
Sebelum tahun 2022, TNI AD menggunakan loreng Malvinas, loreng yang juga dipakai oleh seluruh matra TNI (AD, AL, AU). Ciri loreng Malvinas adalah tiga blok warna besar: hijau tua (army green), cokelat tua, dan krem gading. Motifnya lebih besar dan blok warnanya lebih lebar.
PDL Loreng TNI AD (Loreng Baru)
Pada Maret 2022, KSAD Jenderal Dudung Abdurachman memperkenalkan seragam PDL baru yang benar-benar menjadi identitas khusus TNI AD. Seragam baru ini sebenarnya awalnya dirancang oleh mantan KSAD Jenderal Andika Perkasa, kemudian disempurnakan.
Perbedaan utama loreng baru ini dibandingkan Malvinas cukup mencolok. Warna dasarnya tetap hijau, tapi sedikit lebih terang. Corak lorengnya memadukan warna cokelat, hijau zaitun, dan krem terang, dengan pola yang lebih kecil dan menyebar (tidak blok besar seperti Malvinas).
Dudung sendiri menyebut loreng baru ini sebagai Loreng TNI AD, karena secara resmi, AD akhirnya punya loreng khas tersendiri, tidak lagi menggunakan loreng umum TNI. Secara tampilan, loreng ini agak mirip dengan PDL Kostrad, tapi tetap punya perbedaan pada detail warna dan sebaran motif.
Selain perubahan corak, emblem pangkat dan brevet pada seragam baru ini juga didesain ulang, warnanya lebih terang meski tetap menggunakan dasar hitam dengan aksen hijau lumut.
3. Pakaian Dinas Upacara (PDU) TNI AD
Kalau PDH dan PDL adalah seragam kerja, maka PDU adalah seragam "gala". Seragam ini dipakai untuk berbagai upacara resmi dan memiliki tampilan paling formal, paling gagah, sekaligus paling sarat simbol.
Berdasarkan Peraturan Panglima TNI Nomor 11 Tahun 2019, TNI secara keseluruhan punya enam jenis PDU: PDU I, PDU IA, PDU II, PDU IIA, PDU III, dan PDU IV. Masing-masing dipakai untuk kesempatan yang berbeda.
PDU I dan PDU IA
PDU I digunakan untuk upacara-upacara besar seperti penyambutan pejabat setingkat Menteri dari negara asing, upacara pemakaman militer, apel kehormatan, ziarah militer, dan upacara perkawinan.
Sementara PDU IA dipakai untuk momen yang lebih spesifik, seperti Upacara HUT Kemerdekaan RI, HUT TNI, atau upacara kenegaraan di luar negeri. Kalau kamu lihat prajurit TNI AD tampil lengkap dengan jas hijau dan berbagai medali di dada, kemungkinan besar itu PDU I atau IA.
Ciri khas PDU TNI AD adalah kemeja hijau muda dipadukan jas hijau tua, tampak rapi, gagah, dan penuh wibawa. Berbeda dengan TNI AU yang pakai dominan biru tua atau TNI AL yang identik dengan putih.
PDU II hingga PDU IV
PDU II dan seterusnya dipakai untuk upacara-upacara dengan tingkat formalitas yang sedikit berbeda. Misalnya PDU IV yang dipakai oleh Wanita TNI dengan spesifikasi atribut yang disesuaikan, termasuk penambahan scarf, sarung tangan, dan kelengkapan lain.
Seragam Khusus Satuan Tertentu
Di luar tiga kategori utama tadi, ada juga seragam-seragam khusus yang dipakai oleh satuan atau pasukan tertentu di lingkungan TNI AD.
Contohnya seragam Kopassus (Komando Pasukan Khusus) yang punya baret merah khas dan identitas unik tersendiri, seragam Kostrad dengan loreng yang sudah dikenal lama, seragam Penerbad (Penerbangan Angkatan Darat), hingga seragam POMAD (Polisi Militer Angkatan Darat) dengan ciri khas ban lengan bertuliskan PM.
Setiap satuan elite memang punya kekhasan dalam atribut dan kelengkapan seragamnya, meski kerangka utamanya tetap mengacu pada regulasi PDH, PDL, dan PDU yang berlaku.
Kenapa Penting Mengenal Jenis Seragam TNI AD?
Mungkin ada yang bertanya, "Buat apa sih orang sipil tahu soal ini?" Jawabannya sederhana, mengenal seragam militer itu bagian dari mengenal institusi pertahanan kita sendiri. Apalagi buat kamu yang punya rencana mendaftar TNI AD, yang bergerak di bidang konveksi atau pengadaan seragam, atau sekadar ingin lebih melek tentang dunia militer Indonesia.
Selain itu, buat Sobat Panara yang aktif di dunia pengadaan seragam atau konveksi, pemahaman tentang detail dan jenis seragam TNI AD ini sangat berguna, mulai dari spesifikasi bahan, warna, hingga atribut yang wajib ada.
Penutup
Nah, Sobat Panara, itulah tadi penjelasan lengkap soal jenis seragam TNI AD, dari PDH yang dipakai harian, PDL loreng untuk kegiatan lapangan, hingga PDU gagah untuk upacara resmi. Setiap jenis punya fungsi, aturan, dan atribut tersendiri yang bukan hanya sekadar penampilan, tapi juga bagian dari identitas dan kehormatan seorang prajurit.
Semoga artikel ini bermanfaat dan menambah wawasan kamu ya! Kalau kamu butuh informasi lebih lanjut seputar seragam dinas, konveksi, atau kebutuhan seragam lainnya, jangan ragu kunjungi panara.id.